Tangerang, 12 Januari 2026.
Waktu menunjukkan pukul 00.00, hari ini Tuhan menambahkan satu tahun usiaku.
Sulitnya menjalani satu tahun kehidupan yang penuh dengan air mata dan jatuh-bangun telah membuat cara pandangku berubah tentang umur yang bertambah. Bukan lagi tentang meriahnya perayaan hari bahagiaku dimana aku adalah bintang utamanya, tapi lebih kepada rasa syukur yang meluap sampai ingin menangis rasanya karena tahun kemarin yang begitu sulit berhasil aku lalui. Ibarat sebuah pertandingan, aku berhasil melalui tantangan di babak lalu dan masuk ke babak selanjutnya. Sambil menangis, hati ini berteriak “Gila! Gila! Usia baru ini bukan tentang diriku.” Aku ini cuma apalah-apalah, gak ada yang spesial dari diriku ini. Semua ini tentang Tangan Kuat yang memegang dan memeliharaku sepanjang tahun kemarin, itulah intinya. Tuhanlah bintangnya di hari ini, bukan aku (si cengeng yang cupu ini).
Oleh karena itu, tepat pukul 00.00 saat usiaku bertambah, ada keinginan untuk merayakan semua ini intim berdua saja bersama sosok istimewa itu, Tuhan Allah yang memelihara hidupku.
Aku mendekat kepadaNya, namun tidak memaksa Dia untuk mengatakan sesuatu.
Tidak ada satupun permintaan yang aku ajukan. Benar-benar tidak ada.
Aku hanya ingin bersama denganNya dengan tenang.
Aku hanya ingin mengalir bersamaNya kemanapun Dia membawaku.
Aku gak mampu menahan air mata yang terus memaksa untuk keluar sambil berdoa “Tuhan, kalaupun Kau hanya diam dan tidak berkata apa-apa kepadaku, maka aku akan tetap mau disini bersama denganMu..”
Aku sadar sebagai manusia seringkali aku meminta Tuhan terus berbuat ini dan itu untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan di hidupku.
“Tuhan berkatilah aku…”
“Tuhan berbicaralah padaku..”. “Tuhan bersabdalah padaku..”.
“Tuhan berikanlah janjimu padaku..”
“Tuhan, kalau memang benar begini, maka lakukanlah begitu..”
Bahkan seringkali bertingkah percaya padahal sebenarnya sedang memaksa Tuhan dengan berkata “Aku percaya kok Tuhan akan melakukan bla bla bla dalam hidupku..” Manusia memang bodoh kalau spiritualnya kerdil. Ampuni kebodohanku, Tuhan.
Tahun ini, tahun depan, bahkan tahun-tahun selanjutnya apabila usiaku masih bertambah, itu semua karena kemurahan Tuhan. Sepahit dan seberat apapun badai kehidupan ini kedepannya, apabila aku masih bertemu dengan tanggal 12 Januari berikutnya, maka itu akan menjadi pengingat bahwa Tuhan selalu setia memegang tanganku dan memeliharaku dengan sempurna. Begitulah aku memaknai hari ulang tahunku sekarang. Jadi rasanya merayakan ulang tahun bagaikan seorang bintang sudahlah tidak menarik lagi bagiku.
Tadi sehabis memberikan kejutan ulang tahun, suamiku bertanya apa doa permintaanku kepada Tuhan di usia baru ini, trus sederhana aja kujawab “Gak ada, beb. Aku adalah sebagaimana aku ada sekarang itu semua adalah karena kasih karunia Tuhan. Biarlah mengalir kemanapun Tuhan bawa.” Kemudian aku meniup lilin ulang tahunku sebagai bentuk ucapan syukurku kepada Tuhan. Dan kami menikmati kue ulang tahunku sambil berbincang dan bersenda gurau.